开云体育

ctrl + shift + ? for shortcuts
© 2025 开云体育

FW: Ahmad Izzah al-Andalusy


Dina Saktyari Welastimur
 

Ass. wr. wb.
Saya forward-kan kiriman dari kakak saya. Semoga bermanfaat. Selamat
berpuasa.
Wassalam.

----------
From: doni wisnu bharata[SMTP:doniw@...]
Sent: Friday, December 10, 1999 11:40 AM
To: 'Edi Sukur'; 'dsy@...'; 'dianp97@...'
Subject: Ahmad Izzah al-Andalusy


Suatu sore, ditahun 1525.
Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam.
Jendral
Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa
setiap kamar tahanan. Setiap sipir penjara membungkukkan badannya
rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu berlalu di hadapan mereka.
Karena
kalau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu
akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang
mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. "Hai...hentikan suara
jelekmu! Hentikan...!" Teriak Roberto sekeras-kerannya sembari
membelalakan
mata. Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja
bersenandung dengan husyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara
itu
menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu
orang.

Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang
keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut
wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.
Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang
pucat
kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata Rabbi,
waana'abduka... Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak
bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz...Insya Allah tempatmu
di Syurga."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama
tahanan,'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia
diperintahkan
pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu
keras-keras hingga terjerembab di lantai. "Hai orang tua busuk! Bukankah
engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa
yang
berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini
kini
telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat
aku
benci dan geram dengan 'suara-suara' yang seharusnya tak pernah terdengar
lagi di sini.

Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta
maaf
dan masuk agama kami." Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan
kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap,
"Sungguh...aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat
menjumpai
kekasihku yang amat kucintai, ALlah. Bila kini aku berada di puncak
kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu,
hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia
yang amat bodoh."

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat
diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai
penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju
penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto
bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu
mengambil dan menggenggamnya erat- erat. "Berikan buku itu, hai laki-laki
dungu!" bentak Roberto. "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran
dosa
untuk menyentuh barang suci ini!"ucap sang ustadz dengan tatapan menghina
pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk
mendapatkan buku itu. Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan
untuk
menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak
tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi
Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak
tulang
yang terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika
melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah
hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang
membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah
lusuh.
Mendadak algojo itu termenung.

"Ah...sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah
mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto
membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu
bertambah
terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu.
Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang
tak
pernah dilihatnya di bumi Sepanyol. Akhirnya Roberto duduk disamping sang
ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya.
Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata
Roberto
rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya
sewaktu masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.
Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi
kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.
Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi
(lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu
tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa
berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan,beberapa puluh
wanita
berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi.
Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat
pakaian
muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.
Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup
pada
tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh
para rahib.
Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu
masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban
kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mmungil itu mencucurkan
airmatanya
menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan.

Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah
bernyawa,
sembari menggayuti abuyanya. Sang bocah berkata dengan suara parau,
"Ummi,
ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji
malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....? Ummi,
cepat
pulang ke rumah ummi..."

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab
ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk
pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocaah itu berteriak
memanggil bapaknya
"Abi...Abi...Abi..." Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang
bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh
beberapa orang berseragam.

"Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati
sang
bocah.
"Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawab sang bocah memohon
belas
kasih.
"Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.
"Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.
Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. "Hai
bocah...!
Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu
dengan nama yang bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto'. Awas! Jangan kau
sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu,
nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu.
Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak
laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar
lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah
sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada
tubuh
sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu.
Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris,
"Abi...Abi...Abi..."
Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya
terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku
kecil
yang ada di alam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu
sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.
Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahagian pusar.
Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah.
Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.
Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan
spontan menyebut, "Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tha..." Hanya
sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang
membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang
yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.
"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada
jalan itu..." Terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan
matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh
tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya,
ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran
ALlah.
Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. "Anakku, pergilah engkau
ke
Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan
Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri
itu,"

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan
berbekal kalimah indah "Asyahadu anla Illaaha ilAllah, wa asyahadu anna
Muhammad Rasullullah...'.
Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama
berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya
dibaktikan untuk agamanya, 'Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa
muda sempat disandangnya.
Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya...
"Al-Ustadz
Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman ALlah..."Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada
agama
Allah, tetaplah atas fitrah ALlah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang
lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS 30:30)


Join [email protected] to automatically receive all group messages.