Keyboard Shortcuts
ctrl + shift + ? :
Show all keyboard shortcuts
ctrl + g :
Navigate to a group
ctrl + shift + f :
Find
ctrl + / :
Quick actions
esc to dismiss
Likes
Search
Masalah-masalah Penting Dalam Islam [Masalah - 9 = Asas Kebangkitan Dunia Islam]
Y & R
开云体育?
ASAS KEBANGKITAN
DUNIA ISLAM
oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani
?
? KATA PENGANTAR
?
Tulisan dibawah ini merupakan jawaban dari
pertanyaan pernah yang dilontarkan kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
rahimahullah di majalah Al-Ashalah, edisi 11, tgl. 15 Dzulhijjah 1414H, dan
pernah dimuat di majalah As-Sunnah edisi 13/II/1416 H, kami mengangkatnya
kembali di ML assunnah karena berhubungan dengan ilmu, tentunya dengan ijin dari
penerjemah.
?
?
ASAS KEBANGKITAN DUNIA
ISLAM
?
Bentuk pertanyaan yang dilontarkan adalah
sbb :
?
Pertanyaan.
Asas-asas apakah yang dapat
menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali .?
?
Jawab.
Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih.
Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin di
lontarkan pada masa sekarang ini. Hadits itu adalah sabda Rasulullah SAW.
Artinya :
"Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem 'iinah (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si? pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah -red), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu". (Hadist Shahih riwayat Abu Dawud). Jadi asasnya ialah RUJUK (kembali) kepada
ISLAM.
?
Persoalan ini, telah diisyaratkan?oleh Imam Malik
rahimahullah dalam sebuah kalimat ma'tsur yang ditulis dengan tinta
emas : "Barangsiapa mengada-adakan bid'ah di dalam Islam kemudian
menganggap bid'ah itu baik, berarti ia telah menganggap Muhammad SAW menghianati
risalah". Bacalah firman Allah Tabaraka wa Ta'ala.
Artinya :
"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan buatmu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu". (Al-Maaidah : 3). "Oleh karenanya apa yang hari itu bukan
agama, maka hari ini-pun bukan agama, dan tidaklah akan baik umat akhir ini
melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat
ini"
?
Kalimat terakhir (Imam Malik) di atas itulah yang
berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataannya :
"Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini". Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyah
dahulu tidak menjadi baik keadaannya kecuali setelah datangnya Nabi mereka,
Muhammad SAW dengan membawa wahyu dari langit, yang telah menyebabkan kehidupan
mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat. Demikian pula
seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan
membahagiakan di masa kini, yakni tiada lain hanyalah RUJUK (kembali)
kepada Al-Kitab was Sunnah.
?
Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan,
sebab betapa banyak jama'ah serta golongan-golongan di "lapangan"
mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya
terwujud masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan
Islam.
?
Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah
Rasulullah SAW, bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan,
yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam
firmannya.
"Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya". (Al-An'am : 153). Dan sungguh Rasulullah SAW, telah menjelaskan makna ayat
ini kepada para shahabatnya. Beliau pada suatu hari menggambarkan kepada para
shahabat sebuah garis lurus di atas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis
pendek yang banyak di sisi-sisi garis lurus tadi.
?
Kemudian beliau SAW membacakan ayat di atas ketika
menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian
menunjuk garis-garis yang terdapat pada sisi-sisinya, beliau
bersabda:
"Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini, pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya". (Shahih sebagaimana terdapat di dalam "Zhilalul Jannah fi takhrij As-Sunnah : 16-17). Allah 'Azza wa Jalla-pun menguatkan ayat beserta
penjelasannya dari Rasulullah SAW dalam hadits di atas, dengan ayat lain, yaitu
firman-Nya.
"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk (kebenaran) baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali". (An-Nisaa : 115) Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tegas, yakni
bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengikatkan "jalannya orang-orang
mukmin" kepada apa yang telah di bawa oleh Rasulullah SAW. Hal inilah yang
telah diisyaratkan oleh Rasullah SAW dalam hadits iftiraq (perpecahan) ketika
beliau ditanya tentang Al-Firqah An Najiyah (golongan yang selamat), saat itu
beliau menjawab :
"(Yaitu) apa yang aku dan shahabatku hari ini ada di atasnya" (lihat As-Silsilah Ash-Shahihah : 203) Apakah gerangan hikmah yang di maksud ketika Allah
menyebutkan "Jalannya orang-orang mukmin (Sabiilul mukminim)"
dalam ayat tersebut .? Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah
SAW mengikatkan para shahabatnya kepada diri beliau sendiri dalam hadits di muka
.? Jawabannya, bahwa para shahabat radliyallahu anhum itu adalah orang-orang
yang telah menerima pelajaran dua wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah) langsung dari
Rasulullah SAW, beliau telah menjelaskannya langsung kepada mereka tanpa
perantara, tidak sebagaimana keadaan orang-orang yang sesudahnya.
?
Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan
oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya :
"Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak hadir" (Lihat Shahih Al-Jami' : 1641). Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat
daripada orang-orang yang datang sesudahnya. Ini pula telah diisyaratkan oleh
Rasulullah SAW dalam hadits mutawatir :
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya lagi ". (Muttafaq 'alaihi). Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidak bisa berdiri
sendiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan
dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat Nabi yang Mulia,
orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari
Rasulullah SAW yang terkadang menjelaskannya dengan perkataan, terkadang
dengan perbuatan dan terkadang dengan taqrir (persetujuan)
beliau.
?
Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam
"mengajak orang kembali kepada Al-qur'an dan As-Sunnah" untuk
menambahkan prinsip "berjalan di atas apa yang ditempuh oleh
AS-SALAFU AS-SHALIH" dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta
hadits-hadits yang telah disebutkan di muka, manakala Allah menyebutkan
"Jalannya orang-orang mukmin (sabilul mu'minin)", dan menyebutkan
Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud supaya memahami
Al-Kitab was Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh KAUM
SALAF generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallahu anhum dan
orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan.
?
Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat
penting namun dilupakan oleh banyak kalangan jama'ah serta hizb-hizb Islam.
Persoalan itu ialah : "Jalan mana gerangan yang dapat digunakan untuk
mengetahui apa yang ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan melaksanakan
sunnah ini ..?".
?
Jawabannya : "Tiada jalan lain untuk menuju pemahaman
itu kecuali harus RUJUK (kembali) kepada Ilmu Hadits, Ilmu
Mushtalah Hadits, Ilmu Al-jarh wa At-Ta'dil dan mengamalkan kaidah-kaidah serta
musthalah-musthalah-nya tersebut, sehingga para ulama dapat dengan mantap
mengetahui mana yang shahih dari Nabi SAW dan mana yang tidak
shahih".
?
Sebagai penutup jawaban, kami bisa mengatakan dengan
bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali
mendapatkan 'IZZAH (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam, yaitu anda harus
bisa merealisasikan dua perkara :
?
Pertama :
Anda harus mengembalikan syari'at Islam ke dalam
benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup
ke dalammnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika Allah
Tabaraka wa Ta'ala menurunkan firmannya :
"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu" (Al-Maaidah : 3). Mengembalikan persoalan hari ini menjadi seperti persoalan
zaman pertama dahulu, membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum
muslimin di pelbagai penjuru dunia.
?
Kedua :
Kerja keras yang terus menerus tanpa henti ini harus
dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu.
?
Pada hari kaum muslimin telah kembali memahami dien mereka
sebagai mana yang dipahami para shahabat Rasulullah SAW,
kemudian?melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini
secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mu'minin
dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah.
?
Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini,
dengan memohon kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar
kepada kita dan seluruh kaum muslimin, sesuai dengan tuntunan kitab-Nya dan
Sunnah Rasulullah SAW yang shahih sebagaimana yang telah ditempuh oleh
SALAFUNA ASH-SHALIH.
?
Kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufiq
kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu, sesungguhnya Dia SAMI'
(Maha Mendengar) lagi MUJIB (Maha Mengabulkan Do'a).
?
Wallahu 'alam.
? ? Insya Allah menyusul
:
?
|
to navigate to use esc to dismiss